cari disini

12/04/2008

0 komentar:

Posting Komentar

* TENTANG JEPANG

Jepang , Nippon/Nihon atau yg kita kenal dengan sebutan "negara matahari terbit" adalah sebuah negara...

di Asia Timur yang terletak di suatu kepulauan benua Asia di ujung barat Samudera Pasifik. Pulau-pulau paling besar adalah, dari utara ke selatan, Hokkaido, Honshu (pulau terbesar), Shikoku, dan Kyushu. Beberapa pulau-pulau kecil berada di dekat keempat pulau-pulau ini, termasuk sebuah kelompok pulau-pulau kecil yang berada di sebelah selatan di Okinawa.


1,AGAMA DAN TRADISI
Pada umumnya orang Jepang adalah penganut agama Shinto, Budha atau agama-agama baru yang berafiliasi pada Shinto dan Budha dan sejumlah kecil sekali penganut Kristen.
Jika ditanyakan kepada orang Jepang “anda agamanya apa?”, maka jawaban yang sering kali diperoleh adalah “saya tidak beragama” atau “agama tidak perlu bagi orang Jepang” atau jawaban yang semacamnya. Memang sulit untuk mengukur keagamaan orang Jepang. Di rumah-rumah mereka biasanya bukan saja butsudan (altar Budha) yang akan kita temukan, tapi di rumah yang sama juga akan bisa kita lihat kamidana (altar Shinto). Dalam perkawinan, mereka tidak mempersoalkan agama. Perkawinan antar agama apapun bisa dengan mudah terjadi. Seseorang yang beragama Budha bisa menikah dengan penganut Shinto atau penganut Kristen atau sebaliknya. Begitu pula dalam menyelenggarakan akad nikah mereka dengan bebas memilih cara yang mereka ingini. Apakah dengan cara Shinto di jinja (kuil Shinto) atau dengan cara Budha di tera (kuil Budha) atau di Kyokai (gereja), namun disaat kematian biasanya mereka meminta bantuan tera (kuil Budha), karena di kuil Shinto tidak menerima penyelenggaraan kematian.
Jika dilihat dari angka sensus penduduk beragama di Jepang, biasanya menunjukkan jumlah angka penduduk beragama yang mencapai satu setengah kali jumlah penduduk Jepang yang sesungguhnya. Dalam upacara kematian biasanya orang Jepang mengungkapkan turut berduka citanya dengan memberi okoden yaitu uang bela sungkawa yang besarnya berkisar antara ¥ 5.000 – 10.000. Sementara jika diundang perkawinan orang Jepang akan memberikan semacam hadiah tanda selamat yang disebut oiwai berupa uang dengan jumlah berkisar antara ¥ 10.000 – 20.000 atau lebih, bergantung dari dimana resepsi perkawinan itu diselenggarakan. Dari dimana resepsi perkawinan itu diselenggarakan. Orang Jepang di dalam kehidupannya amat menyukai matsuri.
Matsuri adalah upacara-upacara yang dilakukan orang Jepang yang sifatnya keagamaan atau keyakinan. Matsuri-matsuri ini ada yang diselenggarakan secara periodik, ada pula yang sifatnya aksidental. Penyelenggaraan matsuri merupakan medan pertemuan antara warga desa ataupun warga kota sesamanya. Contoh-contoh matsuri yang amat terkenal antara Gion matsuri, Tanabata matsuri, Nebuta matsuri dan lain-lain.


2. PERGAULAN
Dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan kampus antara mahasiswa dan dosen atau di antara sesama mahasiswa berbeda dengan di kita. Antara mahasiswa dan dosen berlaku tata tertib, sopan santun yang cukup ketat. Terhadap guru/dosen atau yang digurukan berlaku julukan sensei, sementara di antara sesama mahasiswa dengan ketat sistem sempai-kohai atau senior-yunior dijalankan. Untuk memanggil nama sensei atau guru selalu dengan menyebut nama keluarganya, misalnya Tanaka sensei, Sato sensei dan seterusnya, nama kecil tidak pernah muncul dalam panggilan terhadap guru. Terhadap teman terutama sempai (senior) panggilan selalu dengan nama keluarganya dengan tambahan san, sedangkan terhadap kohai atau seangkatannya bergantung dari akrab tidaknya, bisa pula memanggil nama kecil dengan tambahan san. Sebutan atau panggilan terhadap orang-orang di dalam atau di luar lingkungan kampus selain dari sensei berlaku panggilan san, baik terhadap pria maupun wanita.
Dalam berinteraksi dengan orang Jepang secara langsung ataupun tidak langsung ada hal-hal yang perlu diperhatikan seperti orei (rasa terima kasih yang sering diungkapkan dengan ucapan arigato). Jika kita menerima jasa baik apakah itu kecil atau besar perlu mengucapkan arigato. Ucapan itu biasanya bukan saja pada waktu peristiwa terjadi, tetapi sering dikemukan setiap berjumpa lagi dengan si pemberi jasa dengan menyampaikan ucapan kono aida arigato gozaimashita (waktu itu terima kasih).
Selain Orei, orang Jepang juga sangat memperhatikan okaeshi, yaitu pemberian kembali jasa kita memberi sesuatu kenang-kenangan pada orang Jepang, maka cepat atau lambat pasti si orang Jepang itu akan membalas kembali pemberian itu. Dalam pergaulan sehari-hari akan sering terkesan orang Jepang menunjukkan sikap respect terhadap orang-orang barat (kulit putih) atau orang yang dapat berbahasa Inggeris, bahkan tidak jarang pula terbaca sikapnya seperti mereka sendiri adalah orang barat dalam berhadapan dengan orang-orang yang datang dari Asia atau berkulit hitam.
Hal ini mungkin disebabkan kuatnya pandangan orang Jepang dalam menilai superioritas barat ditambah lagi dengan kekuatan ekonomi yang mereka miliki.


HAL YG PERLU DIPERHATIKAN PADA WAKTU BERTAMU

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan sebelum anda berkunjung atau datang ke rumah orang Jepang. Hal-hal tersebut akan dirangkumkan di bawah ini:
Anda dapat melihat papan nama pemilik rumah yang biasanya tertempel
pada salah satu sisi pintu gerbang atau pintu depan. Papan nama semacam
ini dinamakan Hyosatsu.

# Pada waktu musim dingin, sebaiknya anda menanggalkan coat sebelum
memasuki serambi rumah (genkan).

# Sebelum memasuki ruangan, bukalah sepatu di genkan dan merapikannya
dengan cara berlutut, tundukkan badan dan taruhlah sepatu dalam posisi siap
untuk dipakai.

Pintu-pintu kamar merupakan pintu dorong (slidding door) yang dilapisi
dengan kertas buram bergambar di kedua belah sisinya. Pintu semacam ini dinamakan Fusuma.
Pintu dorong yang dilapisi dengan kertas transparan berwarna putih di salah satu
sisinya dinamakan Shoji.
Ada bantal duduk yang dinamakan Zabuton dan kursi tanpa kaki yang dinamakan Zaisu.
Keduanya digunakan sebagai pengganti kursi. Duduklah di atas Zabuton atau Zaisu yang disediakan dalam posisi formil yang dinamakan posisi Seiza (duduk di atas ke dua belah lutut yang ditekuk) sambil menunggu datangnya pemilik rumah. Apabila anda diperkenalkan kepada teman anggota keluarga pemilik rumah, sebaiknya anda pindah dari atas zabuton / zaisu dan seiza di atas tatami. Andaikata anda diminta untuk duduk secara relax oleh pemilik rumah,
duduklah dengan menyilangkan kedua belah kaki ke salah satu sisi paha yang dinamakan posisi Agura bagi pria dan duduklah dengan menyampingkan ke dua belah kaki sisi paha yang dinamakan posisi Yoko Suwari bagi kaum wanita.
Apabila anda melihat ruangan kecil pada pojok kamar yang dinamakan tokonama, hindarilah untuk tidak duduk, menginjak dan berdiri di atas tokonama tersebut. Tokonama dinamakan untuk menaruh jambangan bunga, rangkaian bunga, patung dan barang-barang kesenian lainnya. Di dinding tokonama biasanya digantung gambar yang memanjang ke bawah yang dinamakan kakekuju. Kakekuju ini biasanya dipasang menurut pergantian musim.

Banyak rumah-rumah yang memiliki altar budha yang dinamakan butsudan. Di altar ini ditaruh bermacam-macam benda keagamaan dan monumen tanda peringatan anggota keluarga yang sudah meninggal yang dinamakan ihai. Di depan butsudan dan ihai ini mereka mendoakan arwah anggota keluarga.
Disamping butsudan, ada rumah yang memiliki kuil shinto dalam bentuk miniatur yang dinamakan Kamidana.

Apabila anda tidak diundang, sebaiknya anda menghindari mengunjungi rumah seseorang pada waktu jam makan. Walaupun pada saat tersebut mungkin anda akan ditawari makan bersama.Akan tetapi janganlah ragu-ragu untuk menolaknya.

Apabila anda diundang makan, hindarilah hal-hal dibawah ini dalam hal penggunaan sumpit.
o Zuborobashi, yang berarti memegang mangkuk dan sumpit bersamaan dalam satu tangan.
o Yosebashi, yang berati menggeser mangkuk dengan sumpit.
o Tsukibashi, yang berarti menusuk makanan dengan sumpit.
o Sagubarashi, yang berarti mengacak-acak makanan di dalam satu wadah dengan sumpit.
o Mayoibashi, yang berarti memilih-milih dengan sumpit di atas makanan.

Selama anda dijamu sebaiknya tidak memasuki dapur, karena dapur dianggap sebagai tempat yang sangat pribadi. Setelah selesai makan sebaiknya anda tidak ikut membantu membereskan piring-piring. Serahkan hal ini kepada isteri pemilik.
Apabila green tea dihidangkan setelah selesai makan, ini menandakan bahwa sudah
waktunya bagi anda untuk tidak mengulur waktu walaupun pemilik rumah meminta anda untuk tinggal lebih lama lagi.


(TO BE CONTINUED)